veronikafoju

Perenungan tentang ‘hubungan’

Posted on: March 31, 2011

Aku berulangkali mencoba merenungi apa makna sebuah ‘hubungan’ (pria dan wanita). Ada yang mengatakan hubungan adalah suatu sumpah setia yang harus dipegang erat atas dasar cinta tanpa dasar, suatu fatamorgana di tengah gersangnya roda kehidupan dan komitmen keberlangsungan generasi. Namun tak sedikit pula yang menyatakan hubungan sebagai suatu gonjang ganjing hidup, realitas yang tidak dapat kita pungkiri, tuntutan berkarya, dimana kita harus melepas kebebasan dan keegoan diri.
Di antara dua sisi mata uang sebuah ‘hubungan’, ada baiknya mencoba mengambil garis tengahnya. Aku sendiri mendapati diriku mencoba mengambil sebuah konklusi, yang setidaknya membebaskanku dari keharusan pro atau kontra, positif atau negatif suatu ‘hubungan’.
Menurutku, hubungan bukanlah ketidakpastian, juga bukan suatu kepastian. Hubungan adalah ajang memperkaya dan menemukan imej kita. Hubungan bak simbiosis komensalisme. Kau tak rugi, begitu pula aku. Memang, tak ada yang lebih indah daripada merajut kasih dengan pribadi lain, melontarkan janji-janji tanpa dasar, sampai melahirkan penerus-penerus genetik demi tercapainya garis keturunan. Pula tak ada yang lebih buruk daripada menghanyutkan hak-hak bawah sadar kita dan memakunya dengan palu kebersamaan dan toleransi dengan otak lain yang sama sekali berbeda dengan kita.
Terlalu banya resiko yang kita ambil untuk mempertahankan sebuah ‘hubungan’. Bukannya Aku takut akan resiko itu, namun pengorbanan diri sendiri dan pasangan atas nama sebuah ‘hubungan’ sungguh tidak adil. Menggantungkan seluruh hidup untuk sebuah relasi, tanpa berusaha mencintai diri kita sendiri adalah sebuah kesalahan. Begitu pula dengan melepaskan kemerdekaan manusiawi kita, cita-cita yang belum sempat tercapai, hanya untuk menunjukan status sosial. Bukankah ini menyakitkan bagi pasangan kita? terlebih bagi kita sendiri?
Aku senantiasa memperdalam isi esensi jiwa, berusaha menggali keinginan terkubur dalam hati, dan menemukan bahwa kitalah tuan atas diri kita sendiri. Bukan pasangan kita, bukan pula tuntutan suatu ‘hubungan’. Itulah mengapa Aku dengan jujur mengutarakan bahwa bagiku, hubungan antara pria dan wanita adalah suatu permainan. Pertaruhan semu tanpa syarat. Kita sekedar mengapresiasi suatu hubungan, entah itu baik atau buruk. Janganlah terlalu ‘mencintai’ suatu hubungan, dan jangan pula menganggap hubungan sebagai suatu momok dan kewajiban yang suka tak suka harus kita tempuh. Memandang suatu hubungan sebagai arena pembebasan akan lebih menyegarkan.
Pada akhirnya, ketika kita jatuh, kita tak akan menyalahkan ‘hubungan’ sebagai biang keladinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Veronika

Flickr Photos

The Aged and the Ageless

Photonic Symphony

Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

More Photos
%d bloggers like this: