veronikafoju

Visited Komodo Museum

Posted on: March 8, 2011

Baru-baru ini, saya dan Imel menyempatkan diri berkunjung ke museum Komodo. Awalnya tidak ada rencana untuk ke museum. Pikiran itu dengan tiba-tiba saja muncul seusai mengikuti kuliah. Teori-teori rumit yang dijejali ke otak memaksa kami untuk jalan-jalan sejenak, yah..sekedar untuk refreshing. Ditambah lagi dengan status kami sebagai tukang bajalan yang disemat oleh teman-teman. Sekedar info saja, ujung paling barat Kupang, Puku Afu yang terkenal akan ombak mautnya itu pun sudah kami jelajahi.
Oke, mungkin agak aneh menyebut museum sebagai tempat refreshing. Sebenarnya selain refreshing, kami juga penasaran dengan isinya. Apalagi teman saya, Imel, yang sudah berabad-abad hidup di Kota Kupang pun belum pernah melangkahkan kakinya di sana. Ampunnn…
Saat mengisi buku kunjungan di ruang utama, kami menyadari berbagai hal. Pertama, Sepi. Yang ada di situ hanya seorang satpam, dan 2 orang penjaga museum yang terlihat jemu. Ditambah dengan seorang pengunjung bule yang sibuk dengan catatannya.
Kedua, agak mencekam. Yah, kalau yang ini sih mungkin efek samping dari suasana sepi tadi. Hmm.agak susah dijelaskan. Pernah nonton film Night at the museum? Nah, kira-kira seperti itulah…
Kalau suasana yang terakhir ini bukan soal suasana museumnya, tapi suasana hati kami. Prihatin. Saat kami membolak-balik isi buku kunjungan, ternyata pengunjungnya benar-benar sangat sedikit. Dan yang lebih parahnya lagi, sebagian besar pengunjungnya bukan orang pribumi, tapi tamu-tamu asing. Heran, kenapa orang luar yang malahan lebih peduli terhadap budaya kita dibandingkan kita sendiri?
Pertanyaan itu perlu kita renungkan masing-masing.
Balik lagi ke museum. Karena sebagian besarnya sedang di renovasi, kami hanya diberikan kesempatan untuk mengunjungi 2 tempat, yakni museum lontar dan museum kerangka paus.
Museum lontar dipenuhi dengan alat-alat tradisional dari berbagai daerah yang terbuat dari lontar. Bermacam-macam, dari tempat makanan sampai topi penjaga kuburan. Singkatnya ada tiga fungsi ekonomisnya yakni sebagai bahan dasar pembuatan alat music (sasando gong dan sasando biola), peralatan hidup, peralatan untuk upacara seperti upacara penyerahan belis, jaga mayat, dan perkawinan.
Sementara itu, di museum kerangka paus kami menemukan yang lebih menarik lagi, yakni kerangka paus asli yang terbentang sepanjan ruangan lengkap dengan perahu dan alat-alat lain yang dipakai untuk proses penangkapannya.
Disini akan saya gambarkan sedikit mengenai proses penangkapannya yang dilakukan di Lamalera, Lembata.
Awalnya, disediakan beberapa peledang atau perahu.Peledang ini disiapkan untuk berburu paus. Juga ditentukan para Meing atau awak perahu. Yang paling utama adalah Lamafa atau penombak. Lamafa ini dipilih berdasarkan kekuatan, keberanian, kepintaran dan kedisiplinan mereka. Pastinya sulit menemukan orang-orang seperti ini, namun biasanya posisi ini diturunkan dalam sebuah keluarga. Dan merupakan posisis terhormat di Lamalera.
Nah, sebelum melakukan proses penangkapan paus ini akan diadakan upacara adat yang dipimpin oleh tetua adat, meminta perlindungan untuk proses penangkapan paus. Lamafa yang bertindak sebai penombak paus dilarang untuk melakukan hubungan seks pada saat musim penangkapan paus agar mendapatkan berkah dari para arwah. Kemudian dimulailah proses penangkapan ikan paus.
Setelah berlayar beberapa lama, biasanya mereka dapat menentukan dan menemukan lokasi dimana paus biasa ditemukan.
Saat melihat mangsanya, yang biasanya merupakan Paus Sperma (merupakan paus bergigi terbesar dan karnivora terbesar yang ada di muka bumi), Para lamafa mulai bersiap-siap. Mengangkat tombak besarnya kemudiau menikam tepat sasaran. Biasanya penangkapan ini dilakukan secara bersamaan oleh beberapa peledang untuk menjaga keselamatan. Sehingga jika salah satu peledang tenggelam maka yang lain dapat dengan cepat menangkap dan menyelamatkan para penangkap dari laut.
Saat yang paling berbahaya adalah ketika paus telah tertancap oleh tempuling atau tombak, sebab satu kebasan ekor saja dapat berakibat fatal. Perlu diketahui bahwa ekor paus yang terangkat ialah tanda paus siap menyelam kembali ke dalam samudera, dan dapat menarik perahu ke laut terbuka. Ingat kejadian nelayan Lamalera yang terdampar di Australia? Nah mereka adalah awak perahu yang ditarik oleh paus dan arus laut.
Setelah paus berhasil dibunuh, para Meing atau awak kapal yang tengah berenang di laut harus segera keluar dari air laut yang penuh darah karena bau darah tersebut akan mengundang Hiu. Mereka kemudian dengan perlahan-lahan menarik Paus. Setelah peledang di pantai, para penduduk akan menarik Paus ke pantai. Sebelumnya, para awak mengangkat kepala paus keluar dai air dan mengangkatnya dengan tali untuk dibawa ke pantai.
Bagian tersulit lainnya ialah pemotongan paus. Ini bukan pekerjaan sembarangan. Hanya dapat dilakuka oleh priapria dewasa yang bertenaga dan cukup berpengalaman. Sebelum pemotongan ini, biasanya seorang atamola (orang pintar) akan membelah paus untuk pertama kali dengan menggunakan pisau duri.
Pemotongan dilakukan dimulai dari sirip dada ke ekor. Ada 3 bagian, yakni kepala (jatah tuan tanah), badan (jatah para awak perahu) dan ekor (jatah masyarakat). Pemotongan dilakukan oleh 7-10 orang. Paus dewasa yang ditangkap ukurannya panjang 20 meter dan berat mencapai 40-50 ton. Waktu untuk memisahkan daging dari kerangkanya ialah 1 hari penuh, jika ditambah dengan ritual menjadi dua hari penuh.
Setelah itu, daging akan dibagi-bagi menurut jatahnya. Tugas ini dilaksanakan oleh atamola. Daging biasanya akan dikonsumsi, dikeringkan, diawetkan, disimpan. Minyak paus biasanya digunakan sebagai sumber cahaya di malam hari.
Sebagai info tambahan , saya melampirkan sedikit mengenai jenis-jenis ikan paus:
1. Paus Besar (Balaena glacialis)
Ciri-ciri: Panjang 15-18 meter
Berat 60-106 ton
Mengandung anak selama 9-10 bulan
Melahirkan pada musim panas di daerah teluk
Makanan berupa plankton, krill, cumi-cumi dan sotong
2. Shortfin Pilot Whale (Globicephala merorhynctus)
Ciri-ciri: Panjang 5,5-6,75 meter
Berat 3,3- 7,6 ton
Daerah persebarannya meliputi Alaska, atlantik, pasifik dan hindia
3. Paus Pembunuh (Orbinus orca)
Ciri-ciri: Panjang 8-9,75 meter
Berat 8 ton
Persebarannya luas
Makanannya meliputi tuna, sardine, salmon, dolphin, singa laut, hiu.
4. Paus biru (Balaenopter musculus)
Ciri-ciri: Panjang 25 – 31 meter
Berat 144-199 ton
Bayinya panjang 7 meter, berat 8 ton
Persebaran luas
Makanan terdiri dari plankton dan krill
5. Paus abu-abu (Eschrichtius robustus)
Ciri-ciri: panjang 12-15 meter
Berat 28-38 ton
Makanan terdiri dari udang, cumi-cumi dan sotong
Daerahnya laut pasifik timur
6. Paus Sperma (Physeter macrocepalus)
Ciri-ciri: Panjang 15-20 meter
Berat 42 ton
Makanannya terdiri dari ikan pari, kakap, dan lobster
Persebaran luas
Panjang kelamin jantan 3 meter (waduhh…)

Nah, sekian infonya untuk kali ini. See you!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Veronika

Flickr Photos

The Aged and the Ageless

Photonic Symphony

Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

More Photos
%d bloggers like this: