veronikafoju

Renungan

Posted on: February 24, 2011

Tambang di NTT; Buntung atau Untung?

Sejak manusia diciptakan Allah menurut gambar dan rupanya, Alah menganugerahi berkat-Nya atas manusia. Akan tetapi, bukan hanya berkat yang diberikan pada manusia, melainkan juga tanggung jawab. Tanggung jawab untuk mengusahakan dan memelihara segala yang telah disediakan-Nya bagi kita.

Berangkat dari peristiwa besar yang terjadi saat ini, yakni potensi tambang di NTT. Sesungguhnya bumi NTT telah dianugerahi dengan isi yang melimpah ruah. Lihat saja otensi emas, marmer, tembaga, dan sebagainya yang tersimpan dan telah dieksplorasi di bumi Flobamora. Kenyataan bahwa perut pulau Timor, Alor, Lembata, dan Flores yang kaya akan bahan mineral adalah faktor utama dari ketertarikan berbagai pihak, termasuk ‘orang luar’ untuk mencicipi keberuntungan.

Keberuntungan yang seharusnya ada itu sekarang berubah menjadi kemalangan. Jatuhnya korban meninggal akibat penggalian batu mangan di NTT yang jumlahnya meningkat tiap tahun, sejak pemerintah daerah memberikan Izin Usaha Pertambangan (IUP) pada investor di tahun 2009, telah menjadi puncak dari kecurigaan dan aksi kontra pertambangan yang santer terdengar. Pertambangan yang diharapkan menjadi tiitk tolak bagi provinsi NTT untuk berubah semakin makmur, malah menjadi suatu konflik teraktual. Seorang pejabat kementrian Energi dan Sumber daya mineral (ESDM), pernah berkata, “ Kualitas batu mangan dari NTT termasuk yang terbaik di dunia, dan cukup untuk mmenuhi kebutuhan Indonesia serta Korea Selatan selama lima puluh tahun medatang.” Pertanyaan kita: Apakah ini kabar baik atau buruk bagi rakyat NTT?

Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu (kejadian 2:15)

Ayat kitab suci di atas mengingatkan pada kita bahwa kita hidup di taman eden, yakni bumi, yang telah dilengkapi untuk menjamin kebutuhan hidup kita. Sebagai seorang katolik yang beriman, apa pernah kita merenungkannya?

Marilah sekarang kita kaitkan dengan peristiwa ‘tambang di NTT’ saat ini. Pertambangan dilihat sebagi suatu bidang yang akan memberikan percepatan aliran devisa, penyediaan lapangan kerja, pertumbhan ekonomi, percepatan daerah tertinggal dan pengurangan kemiskinan. Singkatnya, pertambangan adalah cara untuk mensejahterakan umat manusia. Tetapi kenyataannya, hingga hari ini belum ada daerah tambang yang sangat maju. Tidak dapat kita pungkiri bahwa ini semua akibat ulah manusia yang tidak menghargai ‘nilai’ sesungguhnya dari pertambangan. Pertambangan sendiri bukanlah bidang kejahatan, malainkan bidang Pertambangan sendiri bukanlah bidang kejahatan, malainkan bidang yang disalahgunakan oleh ketamakan sehingga berakibat fatal bagi orang lain. Disinilah akhirnya kita, melupakan tanggung jawab yang diberikan Tuhan.

Ada beberapa poin yang menunjukan kerakusan para investor yang mengeruk kekayaan demi kepentingan pribadi dan menunjukan betapa pemerintahan kita adalah pemerintahan yang lemah, mudah diakali, tak punya prinsip serta keberanian membela hak-hak warganya sendiri.

Pertama, secara geografis wilayah NTT tidak layak untuk dilakukan pertambangan sehingga rawan terjadi bencana alam dan tanah longsor. Fakta ini seharusnya dapat diresapi dan menjadi bahan pertimbangan bagi kita semua, khususnya mereka yang berwenang mengambil keputusan. Jangan heran, jika banyak tenaga kerja yang direnggut kesejahteraannya akibat kecelakaan yang marak terjadi.

Kedua, adanya penipuan seperti yang terjadi pada tambang di Reo. Pemerintah mengalihkan perhatian masyarakat dengan mengklaim batu mangan di Reo masih ‘muda’, sehingga para investor berhak mengambil sampel uji coba. Apa yang terjai? Sampel yang seharusnya diambil beberapa kilogram, malah diselundupkan secara illegal sebanyak berton-ton beratnya. Penipuan ini juga memakai topeng berupa penerbitan IUP yang illegal, atau topeng berupa aspek kepentingan ekonomi. Dari realitas dapat ditemukan bahwa di kawasan pertambangan selalu terjadi kekerasan, dan pelanggaran HAM (pengambilan tanah rakyat). Nilai-nilai social budaya seperti gotong royong pun turut hilang diterpa iming-iming individualitas dan hasil pertambangan. Nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi ada. Padahal, nilai-nilai inilah yang merupakan eksistensi kita sebaai manusia. Yesus selalu mengajarkan pada kita tentang nilai manusia, betapa pentingnya manusia di atas segalanya, termasuk di atas aspek kepentingan ekonomi sekalipun.

Ketiga, pemanfaatan tambang yang tidak memperhatikan konteks kelestarian lingkungan dan keberlanjutan generasi. Reklamasi tidak pernah dilakukan di daerah sekitar tambang. Kalupun dilakukan, hanya setengah-setengah. Mengabaikan Analisis mengenai dampak lingkungan, sehingga mengancam keseimbangan ekosistem dan ekologi lingkungan hidup, yang ujungnya berakhir pada bencana tanah longsor yang merenggut nyawa mansa. Lalu, bagaimana dengan nasib generasi penerus kita? Apakah mereka harus hidup di tanah sisa bekas tambang? Akankah mereka sejahtera?

Kesemuanya merupakan realita yang menjadi bahan refleksi. Ini meniming-iming individualitas dan hasil pertambangan. Nilai-nilai kemanusiaan tidak lagi ada. Padahal, nilai-nilai inilah yang merupakan eksistensi kita sebaai manusia. Yesus selalu mengajarkan pada kita tentang nilai manusia, betapa pentingnya manusia di atas segalanya, termasuk di atas aspek kepentingan ekonomi sekalipun.

Hidup kita adalah sebuah pilihan, yang merupakan jalan untuk kehidupan selanjutnya. Kita hendaknya memilih jalan terbaik, yakni jalan yang selalu berujung pada kehendak Tuhan. Dan setiap pilihan memerlukan sebuah tanggung jawab. Peristiwa tambang di provinsi kita adalah cermin untuk berkaca pada kesalahan yang kita buat sebelumnya. Apa kita pernah memberikan apresiasi dan tanggung jawab pada bumi? Janganlah melihat jauh pada peristiwa ini terlebih dahulu, melainkan tengoklah perilaku kita sehari-hari. Melakukan perbuatan-perbuatan kecil seperti buang sampah pada tempatya atau memelihara tumbuhan di pekarangan bernilai besar bagi bumi kita. Kiranya kita dapat menjadi anak-anak Alah yang mencintai bumi beserta segala isinya dengan melakukannya dari hal paling sederhana. Dan bumi akan bersahabat dengan kita.

By : Veronika Foju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Veronika

Flickr Photos

The Aged and the Ageless

Photonic Symphony

Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

More Photos
%d bloggers like this: