veronikafoju

Posted on: February 22, 2011

Moment of Truth

Berkali-kali aku melirik jam tangan casio yang telah kusetel 15 menit lebih awal dalam rangka menghindari keterlambatan. Jam tangan itu sedikit lecet di bagian kaca penutupnya akibat insiden tadi siang. Sebenarnya, jam tangan itu kudapatkan dengan susah payah setelah adu argumen dan adu jotos dengan Boy, teman satu kosku yang kikirnya minta ampun. Heran, mengapa Ia begitu tega menempatkan derajat benda mati itu di atas kepentingan Aku, sahabat sehidup sematinya yang walaupun dengan setengah hati selalu rela meminjamkan uangku saat ia merangkak penuh kepedihan di tengah situasi miskin nan melarat. Begitu melakukan sedikit riset mengenai asal usul jam tangan itu, aku mengerti mengapa ia begitu mati-matian menentangku memakai jam tangan itu. Ternyata jam tangan itu hasil pembeliannya dengan uang tabungan yang telah ia kumpulkan sejak kelas 5 SD.

Keberuntungan rupanya berpihak padaku. Boy menyerahkan jam tangan itu dengan wajah geram dan mencercaku, “ Awas, kalau terjadi apa-apa dengan jam tanganku ini, lex, kujadikan kau sate panggang!” Aku mengangguk-angguk mengerti. Segera mungkin aku memakainya, menghabiskan sebotol penuh listerin, menyemprotkan parfum Axe sampai mata kaki, mengoleskan Gatsby pada rambutku dengan penuh perasaan, dan menggenakan kemeja biru kotak-kotak serta celana jins berwarna pucat D&G.

Usahaku ternyata tidak sia-sia. Penampilanku ternyata mampu menyihir sejumlah wanita di café. Termasuk seorang pelayan mungil yang tiba-tiba saja meletakan kopi yang tidak kupesan, di atas mejaku, sampai seorang Bapak berteriak menyadarkannya (Hei, mana kopi saya!), cewek seksi yang menatapku dengan pandangan bolehkah-aku-mengisi-bangku-kosongmu, dan segerombolan ABG yang terkikik geli melihatku. Tentu saja, aku membalas tiap perlakuan dengan senyuman paling menawan. Konon, menurut sepupuku, senyumanku mirip Cristiano Ronaldo. Aku masih penasaran pernyataannya itu jujur atau tidak. Well..setidaknya ia tidak mengatakan senyumku mirip sule atau aziz gagap yang di OVJ itu.

Physically, I’m totally perfect right now. Namun entah kenapa, badanku masih mengeluarkan getaran-getaran aneh dan tanganku berkeringat. Padahal, telah berminggu-minggu aku merencanakan pertemuan ini. Aku sudah mempersiapkan bahan-bahan obrolan, kata-kata romantis, sampai jurus-jurus gesture maut pelumpuh wanita dalam hitungan detik. Aku akhirnya berusaha menenangkan diriku, sambil dalam hati menggumamkan doa Aku Percaya, tiga kali salam maria, satu kali bapa kami, serta doa mohon pertolongan memperoleh kekasih yang disusun Boy di atas cakaran matematikanya.
“Inilah sumbangsih yang mampu kupersembahkan untukmu, sobatku. Dijamin manjur bagi insan yang tengah jatuh cinta,hehehe..” Katanya tanpa dosa.

Kutatapi kertas lusuh yang tak layak pakai itu dengan pandangan sebal.

Kulirik lagi jam casio di tanganku. Jam 07.06 pm. Sudah lewat 6 menit. Pasti sebentar lagi ia akan datang. Kurapikan sekali lagi kerah kemeja dan me-non aktifkan hpku yang berpotensi menjadi pengganggu saat momentum bersejarah nanti. Saat aku mengembalikan hp ke dalam saku celana, saat itulah dia muncul.

Inez. Gadis yang kutunggu-tunggu kedatangannya, melangkah pasti ke arahku sambil mengembangkan senyum manisnya. Ia menggenakan atasan putih dengan rok merah muda yang melambai-lambai selagi ia mengayunkan kakinya. Aku membalas senyumannya dan melambaikan tanganku. Ia duduk di kursi kosong di depanku dan kami berdua kini hanya terpisahkan oleh meja.

Seketika, jantungku mulai berdegup gila-gilaan, napasku tak karuan, dan tanganku tiba-tiba ingin meraih jari jemarinya. Aku tidak pernah merasa sedemikian gugup dalam hidupku. Kutatap wajah kuning langsatnya. Dialah gadis yang mampu menyalakan kobaran api semangat di tengah kehidupanku sebagai mahasiswa. Dia, yang telah membuatku mengurangi kebiasaan merokokku setelah mendengar ceramah panjang lebarnya tentang bahaya merokok pada salah satu presentasi makalah. Dia, yang mampu membuatku mati-matian berusaha mendapatkan kerja part time di tempat fotokopi samping kosku setelah berapi-api menyuarakan tentang kemandirian di telingaku. Dia, yang telah membuat dosen pembimbingku memandang KHSku dengan tatapan tidak percaya terhadap fakta indeks prestasiku naik drastis bagaikan semburan geyser. Dia juga, yang telah membuatku rajin mengikuti misa di Gereja sejak suatu hari mendapatiku sedang mengigau di tempat tidur, sementara hari itu adalah hari minggu pesta orang-orang kudus. Singkatnya, I’ve been altered to be better human because of her.

“ Tumben ngajak aku ke tempat begini.” Ia memandang sekeliling. “Pasti lagi makmur,ya..hehehe..mujur dong, aku kecipratan rejekimu. Hmm..sudah pesan makanan belum? Lapar nih, dari tadi siang sibuk terus, jadi lupa makan. Eh, kak..kita mau pesan makanan nih.” Serunya pada salah satu pelayan yang langsung terbirit-birit menghampiri meja kami.

Aku speechless. Ia bahkan tidak menyadari betapa tampannya aku sekarang, betapa gugupnya aku di depannya, betapa inginnya aku mengucapkan three magical words itu tanpa ba-bi-bu, atau betapa susah payahnya aku mengusahakan aura seromantis mungkin.

“ lex, aku sudah pesan nih. Giliran kamu, mau pesan apa?”

“ Sama…”

“Lho, bukannya kamu alergi daging sapi,lex? Aku tadi pesan nasi rendang. Sumpah, aku benaran angkat kaki kalau alergimu kumat disini..”

“ Kalau gitu nasi rendang yang tidak pakai daging sapi..”

“ Astaganaga ular kobra,lex! Mana ada rendang yang bukan dari daging sapi? Kamu kenapa sih, kok aneh..”

“ Sebenarnya aku mau bicara penting. Kamu bisa tunda dulu acara makannya kan?” Kataku tidak sabar. Inez, yang semangat makannya langsung lenyap ketika melihat mimik seriusku, menatap penuh tanda tanya. Ia tersentak ketika aku meraih tangannya dengan gerakan slow motion.

“ Begini..” Aku bedehem “ Kita sudah sangat dekat sejak awal semester satu dulu. Sejak mengenal kamu aku berubah banyak,nez..Aku tidak tahu kenapa..” Aku berhenti, menggantung ucapanku. Otakku berpacu deras, mengulik kembali isi memori tentang kalimat-kalimat yang telah aku hafalkan sebelumnya. Namun semuanya kosong, tak tersisa. Kuputuskan untuk langsung to the point. ”Nez, sebenarnya aku mau bilang ini sebelumnya. Tapi selalu tidak sempat. Aku dari dulu su..ma..maksudnya aku mau kamu jadi………..”

Hening sejenak. Kami saling menatap. Mata Inez membola dan Aku menarik napas demi moment of truth itu.

Tiba-tiba seorang laki-laki berbadan bak Ade Rai muncul dengan raut kebingungan bercampur murka. “ Inez, lagi buat apa kamu?? Lho, pake acara pegangan tangan lagi, sama sia..”

Inez buru-buru menarik tangannya “ Eh, ivan..ni kenalkan temanku Alex yang sering aku cerita itu..tadi tanganku rada pegal, jadi dia bantu mijit,iya kan, lex?” Inez memandangku penuh arti, aku mengangguk.

“ Oh Alex ya. Temannya Inez dari semester satu kan? Kenalkan, Aku Ivan, pacarnya Inez..”

Aku setengah melongo. Pacarnya Inez?? PACAR? Tapi kenapa aku baru tahu sekarang?
Aku berjabat tangan dengan Ivan, yang tubuhnya super duper atletis, tiga kali lipat dibandingkan aku. Ternyata ia adalah guru fitness sekaligus PNS di kantor pertanahan. Rencanaku berakhir dengan acara makan dengan Inez dan pacarnya itu. Aku diam, sedih, pilu, kecewa, marah melihat betapa kompaknya mereka. Tawa mereka bahkan hampir sama bunyinya. Aku betul-betul tidak mengerti, mengapa Inez, gadis penuh semangat, pintar, dan paling kusayangi itu bisa-bisanya jatuh ke dalam pelukan laki-laki yang bentuk tubuhnya seumpama tanki air. Apakah ia tidak pernah sadar bahwa aku mencintainya?
Sebelum kami berpisah, Inez buru-buru mengisyaratkan Ivan untuk masuk dalam mobil lebih dahulu, dan menarik tanganku.
“ Alex..aku minta maaf selama ini aku tidak pernah cerita tentang Ivan..Aku tahu ini membuat kamu kaget tadi. Tapi sungguh, aku bukannya sengaja. Aku berencana mengenalkan kalian pada perayaan ulang tahunku nanti..”

Aku diam dan menatapnya dengan pandangan terluka. “ Nez..kamu harus tahu bahwa tadi sebenarnya aku mau bilang kalau aku suka padamu.”

“ Aku tahu..” Ia mengeratkan pegangannya pada tanganku. “ Aku bisa membaca dari tatapanmu,lex..tapi aku menyayangimu seperti saudaraku sendiri. Nothing more nor less..” Lalu ia memelukku lama.

“ Tapi ini tak membuat persahabatan kita putus kan?” tanya Inez saat ia melepas pelukannya.

Aku menggeleng dan berusaha tersenyum. “ Tidak akan. Kalau kau menolakku, itu hakmu Inez, aku hanya lega karena telah melepas beban perasaan padamu selama ini.”

Betapa inginnya aku membahas segala sesuatunya dengan Inez saat itu juga. Namun, tiba-tiba aku merasa sangat letih dan ingin cepat-cepat menghilang dari pandangannya.

Sesampainya di kos, kudapati Boy cs sedang asik-asiknya bermain PS. Ketika melihat tampangku, ia buru-buru menghampiriku dengan mulut dipenuhi nasi kuning. “ hmpff..himana hoy, hukheh?” (gimana coy,sukses?).
Aku menatapnya nanar. “ Moment of truth became moment of death..”

By: Veronika Foju

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Veronika

Flickr Photos

The Aged and the Ageless

Photonic Symphony

Kuifmees / Crested Tit / Mésange huppée

More Photos
%d bloggers like this: